tiwinisacha. Powered by Blogger.
RSS
Showing posts with label Jurnal Mimpi. Show all posts
Showing posts with label Jurnal Mimpi. Show all posts

Ghost and Big Snake

Mimpiku semalam panjang sekali, and very complicated. Banyak hal masuk di dalamnya, banyak pelaku dan persoalan yang berbeda. Kolam renang, pepohonan, tanah basah, gedung gelap dengan aura yang tidak bagus, perang dingin, dan… yaaa aku akan skip hingga pada bagian yang mulai mencekam saja.

Aku berlari sana sini mecari toilet, entah itu di gedung apa, seperti sebuah mall, namun nampaknya sudah malam dan akan tutup. Setibanya di toilet, aku tidak menemukan cermin disana. Hanya lorong sempit dengan 4 kamar toilet di sisi kiri, dan wastafel di bagian ujung. Aku menunggu giliran untuk masuk karena semua pintu tertutup, yang ku duga artinya didalam pasti “ada orang” nya. Tak lama setelah aku menunggu, gadis kecil masuk bersama ibunya. Namun karena penuh, mereka pun menunggu disebelahku. Entah mengapa aku merasakan ada yang tidak beres di toilet ini. Memang ada suara air dari kamar toilet, tapi feelingku buruk. Gadis kecil yang merasa menunggu terlalu lama menjadi tidak sabar, ia menggedor pintu tersebut.
“ini beneran ada orangnya atau pintunya yang rusak sih? Lama banget!” teriaknya kesal. Kemudian ia mengintip dari bawah pintu toilet, dan… “mamaaaah… ga ada orangnya di dalem!”
Byuuuuuuurrr… suara air dari dalam toilet pun berbunyi segera setelah gadis kecil itu mengatakan bahwa ia tidak melihat ada orang ataupun kaki orang di dalamnya. Ganjil, lalu siapa yang membuat suara dari dalam? Kami bertiga saling menatap dengan mata panik, yang mengisyaratkan bahwa kami harus segera keluar dari toilet ini.

Kerajaan Bawah Laut


Aku bermimipi bahwa mimpiku bisa direkam. Alhasil sebangun tidur, aku menyetel ulang rekaman itu dan ku tunjukan pada orangtuaku (padahal ternyata ini juga masih dalam mimpi). Di layar TV terlihat aku yang awalnya hanya berjalan-jalan di taman dengan dekorasi sangat bagus yang belum pernah ku datangi. Di belakangku ada mas Uyung sedang berjalan menuju suatu tempat, penampilan dan raut wajahnya masih sangat sehat dan energik, seakan-akan aku duduk di suatu "masa" yang membawaku kembali ke beberapa tahun silam saat kondisinya masih baik-baik saja.
Kemudian aku datang ke kolam renang, memuaskan diri dengan berenang kesana kemari. Tapi anehnya aku sendirian. Sama sekali tidak ada pengunjung lain. Tiba-tiba seperti ada suara dari dasar kolam yang memanggilku, mengajakku menyelam ke dasar.

Segitiga Matahari


Sinar mentari semakin terang menembus kaca jendela. Aku bergegas mengikat tali sepatu untuk berangkat ke sekolah. Pagi ini firasat terasa buruk sekali, entah mengapa. Setibanya di SMPN 174, aku berpapasan dengan tiga teman karibku di tangga menuju lantai tiga. "Haiii...!" ku sapa mereka dengan penuh semangat dan keceriaan. Mereka menatapku, namun diluar dugaan, seketika dibuang pandangannya dari wajahku dengan sinis, lalu berlalu pergi begitu saja, tanpa jawaban, tanpa senyuman balasan. Melihat perlakuan itu, aku baru teringat dengan permasalahan yang belum terselesaikan diantara kami, sebuah kesalahpahaman yang membuat semuanya menghilang dariku.
Hati termenung sambil tetap melangkah menuju kelas. Sebelum sempat membuka pintu, ku rasakan sesuatu muncul dengan gerakan yang tak wajar, terletak jauh di sebelah kananku. Kehangatan menyentuh kulit dan dengan cepat semakin bertambah panas, tak seperti biasanya. Ku palingkan wajah untuk melihat ke arah pintu pagar sekolah, ternyata diatasnya terbit sebuah matahari, bergerak dengan amat cepat, semakin meninggi hanya dalam hitungan detik. Ku picingkan mata yang semakin kesilauan saat dua matahari lainnya terbit menyusul matahari pertama, membentuk sebuah formasi segitiga...