tiwinisacha. Powered by Blogger.
RSS

God, Only You Know How's The Truth

image

Sekuat apapun manusia, seceria apapun wajahnya, seramah apapun senyumnya, sebaik apapun sifatnya, tetap saja akan sakit bila dilukai. Apa yang diekspresikan dan dilakukan belum tentu menggambarkan kondisi jiwa. Sebab tindakan adalah tentang tuntutan kesadaran, sementara luka tetap menimbulkan perih pada tempatnya.
Allah, aku memahami bahwa Kau Maha Adil, yang mana setiap perbuatan akan memperoleh ganjarannya. Namun saat perih ini menggetarkan pertahananku, menghancurkan dayaku, melemahkan tubuhku, memunculkan fikiran untuk menyelesaikan semuanya dengan tanganku.. bagaimana caraku mengendalikannya?
Akal ku menyadari bahwa jika sekalipun aku tidak berbuat apa-apa, Kau akan tetap menyelesaikan semuanya, karna Kau Maha Melihat. Namun setiap fakta yang mencuat terasa seperti air garam yang mengalir diatas luka. Hingga perih ini kadang bagikan bom waktu yang siap meledak... amarah menyelimuti hati, menodai niat ikhlas, merusak pertahanan diri... Semoga Kau senantiasa melindungi kembali jiwa ini.
Bagaimana bisa semuanya "tersenyum ceria" diatas kesenangan yang diciptakan dari pendustaan dgn mengatasnamakan ridho-Mu? Memang ada kebohongan yang diizinkan dalam Islam, namun apakah kebohongan yang menguntungkan sebelah pihak dan menghancurkan pihak lainnya itu termasuk di izinkan dalam Islam?
Bagaimana bisa manusia yang sangat baik pencitraan agamanya, yang luas pengetahuan Islamnya, yang nampak kuat iman dan takwanya, yang sering menyebut-Mu dalam tutur katanya, namun diam dan berlari saat dimintai pertanggungjawaban atas kekacauan yang telah diperbuatnya? lalu masih melakukan pembelaan diri dengan mengatasnamakan hal-hal yang mengarah pada agama-Mu?
Allah, sungguh Kau lah yang Maha Melihat segala apa yang tersembunyi. Tak perduli bagaimana orang berargumen dan menilai, tetap Kau yang paling memahami setiap detail kenyataannya. Terimakasih telah menunjukkan bukti dan membukakan setiap fakta. Terimakasih telah menguatkan ku setelah ku lihat segala yang sangat menyakitkan. Terimakasih telah menjadikan ku pemberani yang tidak lari dari pahitnya kehancuran. Karna ternyata kuat bukanlah berhasil tersenyum setelah menghindari luka, tapi berhasil bangkit setelah menghadapi dan menaklukkan luka...

Pengendalian Emosi

image
Tulisan ini dibuat dalam rangka memenuhi tugas Bahasa Indonesia ^_^
Segala sesuatu di dunia ini memiliki energi. Baik alam semesta maupun makhluk hidup akan memancarkan energi setiap saat. Manusia merupakan makhluk hidup yang energinya sering berubah-ubah disebabkan emosi yang cenderung tidak stabil. Emosi dapat berupa rasa cinta, rasa amarah, maupun rasa benci, yang mana kesemuanya itu memancarkan energi yang berbeda. Energi dari cinta dapat memberikan dampak positif, namun energi dari amarah dan kebencian dapat memberikan dampak negatif yang membuat orang lain disekitarnya berkemungkinan besar untuk terpengaruh amarah dan kebencian yang bisa menurunkan pengendalian seseorang terhadap tutur kata maupun tingkah lakunya.
Dengan demikian, ketika sekelompok orang telah dikuasai oleh energi negatif dari amarah dan kebencian, mereka dapat saja melontarkan kata-kata kasar atau melakukan hal buruk terhadap sesuatu atau seseorang yang tidak disukainya. Jika perilaku ini menjadi kebiasaan yang tertanam dalam diri, maka yang pertama kali dirugikan adalah diri sendiri. Sebab energi negatif ini akan menggerogoti jiwa, mengikis ketenangan, menimbulkan pertentangan batin, dan menurunkan kualitas diri. Oleh karena itu, kita sebagai manusia harus mampu mengendalikan emosi agar tidak memancarkan energi negatif yang dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain.

Kerajaan Bawah Laut


Aku bermimipi bahwa mimpiku bisa direkam. Alhasil sebangun tidur, aku menyetel ulang rekaman itu dan ku tunjukan pada orangtuaku (padahal ternyata ini juga masih dalam mimpi). Di layar TV terlihat aku yang awalnya hanya berjalan-jalan di taman dengan dekorasi sangat bagus yang belum pernah ku datangi. Di belakangku ada mas Uyung sedang berjalan menuju suatu tempat, penampilan dan raut wajahnya masih sangat sehat dan energik, seakan-akan aku duduk di suatu "masa" yang membawaku kembali ke beberapa tahun silam saat kondisinya masih baik-baik saja.
Kemudian aku datang ke kolam renang, memuaskan diri dengan berenang kesana kemari. Tapi anehnya aku sendirian. Sama sekali tidak ada pengunjung lain. Tiba-tiba seperti ada suara dari dasar kolam yang memanggilku, mengajakku menyelam ke dasar.

Terkadang Hanya Waktu Yang Mampu

Terkadang, kita baru bisa menyadari sebuah kesalahan ketika segalanya telah berlalu. Terkadang, kita baru bisa mengambil makna dari sebuah kejadian ketika segalanya nampak terlambat. Terkadang, kita baru bisa melihat dimana sisi-sisi yang harus kita perbaiki dalam diri kita ketika segalanya sudah berubah jauh. Terkadang, kita baru menyadari betapa berharganya sesuatu ketika kita sudah kehilangan...
Terkadang, kita menyalahkan orang lain dengan keras saat sebenarnya kita juga andil dalam kesalahan. Terkadang, kita meluapkan emosi dengan kata-kata tajam hingga mengukir luka yang tak tersembuhkan. Terkadang, kita baru menyesali amarah yang terlanjur tumpah di masalalu ketika penyesalan sudah tak dapat mengubah apapun... Terkadang memang hanya waktu yang mampu menyadarkan, hanya waktu yang mampu meredam, hanya waktu yang mampu mengubah, hanya waktu yang mampu menyembuhkan...

Segitiga Matahari


Sinar mentari semakin terang menembus kaca jendela. Aku bergegas mengikat tali sepatu untuk berangkat ke sekolah. Pagi ini firasat terasa buruk sekali, entah mengapa. Setibanya di SMPN 174, aku berpapasan dengan tiga teman karibku di tangga menuju lantai tiga. "Haiii...!" ku sapa mereka dengan penuh semangat dan keceriaan. Mereka menatapku, namun diluar dugaan, seketika dibuang pandangannya dari wajahku dengan sinis, lalu berlalu pergi begitu saja, tanpa jawaban, tanpa senyuman balasan. Melihat perlakuan itu, aku baru teringat dengan permasalahan yang belum terselesaikan diantara kami, sebuah kesalahpahaman yang membuat semuanya menghilang dariku.
Hati termenung sambil tetap melangkah menuju kelas. Sebelum sempat membuka pintu, ku rasakan sesuatu muncul dengan gerakan yang tak wajar, terletak jauh di sebelah kananku. Kehangatan menyentuh kulit dan dengan cepat semakin bertambah panas, tak seperti biasanya. Ku palingkan wajah untuk melihat ke arah pintu pagar sekolah, ternyata diatasnya terbit sebuah matahari, bergerak dengan amat cepat, semakin meninggi hanya dalam hitungan detik. Ku picingkan mata yang semakin kesilauan saat dua matahari lainnya terbit menyusul matahari pertama, membentuk sebuah formasi segitiga...